Sabtu, 01 April 2017

My Brithday

Selasa, 04 Oktober 2016

Yudisium

Senin, 26 September 2016

Kebersamaan

Senin, 11 Juli 2016

Yamaha Kolaka

VIAR KOLAKA

Jumat, 08 Juli 2016

Pantai Malaha

Pantai Malaha Destinasi Wisata Yang “Terbuang”

Pantai Malaha atau tanjung Malaha. Mungkin sebagian besar masyarakat Kolaka mengenal daerah ini. Puluhan tahun lalu, daerah yang berjarak sekitar 35 kilometer arah utara kota Kolaka ini menjadi destinasi wisata utama masyarakat Kolaka. Namun kini, semua itu tinggal kenangan.


Betapa tidak, daerah yang dulunya dikenal sebagai pusat wisata di Kabupaten Kolaka, berubah menjadi tempat yang seakan menyeramkan untuk dikunjungi. Banyak pihak yang menyesalkan hal tersebut. Terlebih lagi kurangnya perhatian pihak terkait kepada keberadaan pantai Malaha yang pernah tersohor akan keindahannya.

Sebenernya jika kita bandingkan dengan wisata pantai yang ada di Nusantara, maka pantai Malaha tidak kalah saing dari segi keindahan. Jika Lombok punya pantai Gilitrawangan, atau Bali punya pantai Kuta, maka Kolaka seharusnya berbangga hati punya Pantai Malaha. Sekali lagi, potensi yang sudah pernah tersohor tersebut meredup seiring kurangnya perhatian yang dicurahkan ketempat itu.



Saat masa jayanya, jika musim libur sekolah tiba ratusan bahkan ribuan pengunjung berjibaku memadati pesisir pantai Malaha. Otomatis hal ini dapat mendongkrak penghasilan warga setempat. Sebab perahu-perahu warga digunakan sebagai alat transportasi penyeberangan oleh para wisatawan. Jadi pasca “terbuangnya” destinasi itu secara otomatis mematikan penghasilan sebagian besar warga setempat. Kini, sampai kapan objek wisata itu “dibuang” ?.


Sebagai gambaran, tempat wisata itu memiliki panjang pantai sekitar 15 kilo meter dengan keindahan pasir putihnya. Deburan ombak dipantai itu juga sangat cocok dengan beberapa olahraga pantai. Laut yang berbatasan langsung dengan teluk Bone itu juga memiliki alam bawah laut yang memukau.
Untuk menambah keindahan bisa dilihat dan dirasakan semilir angin sepoi-sepoi dari rindangnya pohon pinus dan pohon kelapa sepanjang bibir pantai. Bahkan masih banyak lagi keindahan alam yang disuguhkan untuk memanjakan mata para pengunjung.



Untuk menjangkau pantai Malaha cukup menempuh perjalanan darat sekitar 30 menit dari pusat Kota Kolaka. Setibanya di Desa Malaha, pengunjung harus menumpang perahu warga guna menjangkau bibir pantai dengan jarak tempuh 10 sampai 15 meter.


Percayalah, setibanya dibibir pantai perjalanan anda akan terbayar denga keindahan alam dan lautnya. Kini tinggal kita tunggu apakah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan terus “membuang” potensi wisata ini, semoga saja tidak.

Indra Jeri Sunbanu

KETERIKATAN PULAU AMBON DAN SUKU HELONG DI PULAU SEMAU

KETERIKATAN PULAU AMBON DAN SUKU HELONG 
DI PULAU SEMAU
Helong atau Halong sebuah suku yang mendiami pulau Semau atau pulau Timau. Suku Helong berasal dari Pulau Ambon. Helong sebenarnya berasal dari kata Halong, yang oleh orang yang tinggal disana susah untuk menyebutkan kata Halong dan lebih senang menyebutkannya menjadi Helong. Helong atau Halong adalah sebuah pulau di Ambon (Maluku) tempat dimana Suku Helong Berasal.
Pada tahun 1512 Portugis datang di Maluku untuk berdagang yang menyebabkan terjadinya peperangan antara Ternate dan Tidore. Ternate di Bantu Oleh Portugis dan Tidore di Bantu Oleh Spanyol, yang menyebabkan orang Helong lari meninggalkan tempat kediaman mereka yang bernama Halong untuk menyelamatkan diri. Dengan menggunakan Rakit yang terbuat dari Batang pisang suku halong/helong menyebrang ke Pulau Timor dan mereka tiba di sebuah tanjung di Lospalos, yang kemudia Suku Helong / Halong menyebut tanjung itu sebagai Tanjung Helong, namun karena disesuaikan dengan ejaan orang belu maka tanjung itu pun berganti menjadi hero disesuaikan dengan ejaan yang mereka gunakan. Lalu mereka berjalan Menuju Dili, Dili dalam bahasa Helong Artinya Berdiri. Dari Dili Orang Helong / Halong melakukan perjalanan menuju Atapupu, Atapupu sendiri dalam bahasa Helong berarti Ata : Budak, Pupu : Kain yang artinya Budak yang mengenakan Kain. Dari Atapupu suku Helong / Halong melakukan perjalanan menuju Atambua dimana atambua sendiri juga berasal dari bahasa Helong yang artinya Budak – Budak berkumpul. Mereka berkumpul dan beristirahat sejenak setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju Gunung Timau, di Kabupaten Kupang. Orang Helong / Halong hidup dengan damai dan aman diatas Gunung Timau, lalu oleh orang Halong / Helong Menyebut Gunung Timau adalah Gunung Penyelamat Untuk mereka. Dalam setiap upacara adat orang Helong / Halong maka Gunung Timau selalu disebut sampai dengan hari ini. Dari gunung Timau orang Helong / Halong menuju ke pulau semau yang sebenarnya namanya adalah Timau sesuai dengan nama gunung yang menjadi penyelamat orang – orang Helong / Halong.
Orang Helong hadir di pulau Ambon waktu itu karena perang Salib yang terjadi di Turki pada abad ke Xitahun 1905 yang di angkat oleh Paul Urbanus II dari Roma mengatakan akan Merebut Kota Yerusalem, dari kekuasaan orang – orang Islam, yang akhirnya timbul perang yang disebut sebagai perang Salib. Menurut sejarah Helong, Perang Salib memiliki kaitan Erat dengan orang – orang Helong / Halong karena ternyata perang salib ini di Akhiri di Nusa Bungtilu (nama Lain dari pulau semau) desa Huilelot yang diangkat oleh dua suku pendahulu ini yaitu Tausbele’e dan Putislulut. Tausbele’e dalam bahasa Helong artinya Siap memberi, pantang Menerima imbalan. Sedangkan Putislulut artinya Keluar dengan telanjang, tidak punya apa – apa.
Tausbele’e adalah pengikut Koen Roat dari daerah Hitu atau Ambon sehingga nenek Moyang dari Tausbele’e yang pertama adalah Ampo Hitu’u karena ia berasalah dari daerah Hitu, yang tempat mengungsinya diatas batu Upu’u Nusa Tungtilu desa Uiboa. Sedangkan Putislulut tempat mengungsinya di tanjung Kurung atau Iung Nhoden) desa Uiasa. Yang pertama kali menemukan bungtilu adalah Putislulut. Dalam bahasa Helong Bungtilu artinya satu pohon Kapan yang kembangnya memiliki 3 Warna. Nah kedua marga ini (Tausbele’e dan Putislulut) berperang untuk merebut Nusa Bungtilu. Dalam peperangan itu Putislulut menang berkat bantuan Marga Holbala dan Pengikut – pengikutnya yang turun dari atas gunung Timau. Padahal Putislulut yang sebenarnya Bugis Binongko (yang namanya La Hendang), sedangkan Taubele’e adalah masyarakat dari daerah Hitu, sehingga iya diberi nama Ampohitu’u yang di pimpin oleh Koen Road atau Koen Hat yang beragama kristen Katolik.
Peperangan Taubele’e dan Putislulut dapat di damaikan oleh tiga orang pahlawan dari pulau Rote (Rote Timur) yaitu Feotalo, Hea Mengga dan Kila Edon). Setelag tiga pahlawan ini tiba di Bungtilu barulah Hea Mengga yang pergi kawal Tausbele’e dari atas batu Upu’u untuk turun dan mendamaikan dengan Putislulut dengan sumpah yang digambarkan pada selimut orang Helong. Gambaran tersebut berbentuk lingkaran dan Kumbang Kecil – kecil dalam lingkaran itu adalah gambar benteng pertahanan Tausbele’e diatas batu Upu’u, sedangkan kembang yang di bagian ujung sebelah menyeblah adalah gambar alat pemintal benang, dan putih yang di tengahnya adalah sumpah supaya tidak boleh berperang merebut tanah lagi karena pada tahun 1847 semua suku – suku yang mengikuti putislulut dan tausbele’e sudah mendapat pembagian tanah yang di bantu oleh tiga pahlawan dari pulau Rote. Dalam peperangan tersebut Putislulut yang memang maka ia berhak membagi tanah kepada pengikut -pengikutnya, yaitu pengikut tausbele’e mendapat bagian dari sebelah barat dari Kali mati yang letaknya di desa Uitao kecamatan semau, sedangkan marga Putislulut dan pengikut -pengikutnya mendapat bagian dari kali mati ke sebelah timur.

Diberdayakan oleh Blogger.

Latest News

Total Pageviews

Blogroll

Text Widget

Follow us on facebook

Need an Invite?

Want to attend the wedding event? Be our guest, give us a message.

Nama Email * Pesan *

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Followers

Blogger templates

About

Follow me on Facebook :P

Blogger templates

Pages - Menu

Popular Posts